Skip to content

alur prepress dalam bisnis percetakan

January 26, 2012

Prepress atau Pracetak dalam Bisnis Percetakan biasanya disiapkan oleh seorang Desainer Grafis alias Graphic Designer. Output desain grafis yang buruk amat berpengaruh pada performa cetak di mesin cetak offset. Banyak agen percetakan murah yang mengabaikan optimalisasi pada proses persiapan cetak ini.


Prepress atau Pracetak adalah semua proses digital untuk menyiapkan desain cetak (artwork, graphic design) dengan menggunakan perangkat komputer, dimulai dari input data sampai desain siap cetak atau Final Artwork. Semua hal yang dilakukan saat membuat layout artwork dengan menggunakan beragam Software Grafis populer seperti Adobe Photoshop, Macromedia Freehand, Illustrator, CorelDraw, PageMaker, InDesign atau QuarkExpress, dsb adalah aktifitas yang termasuk tahapan PrePress yang dilakukan oleh pelaku usaha percetakan.

Jadi ada beberapa aturan yang harus diikuti oleh desainer grafis handal, sehingga desain yang dibuat akan dicetak dengan hasil yang konsisten (hampir 100% sama persis) dengan apa yang terlihat di monitor komputer. Dari pengalaman penulis di lapangan, terangkum fakta bahwa banyak sekali terjadi kesalahan pada pencetakan, dikarenakan pekerjaan desain grafis yang tidak benar pada tahap Prepress atau pracetak ini. Banyak kendala yang perlu diantisipasi supaya hasil akhir suatu barang cetakan terlihat sempurna.

Inilah daftar masalah yang patut diperhatikan dan diwaspadai pada saat tahap Prepress berlangsung:

Rule #1: Missing or incorrect fonts.
Hal ini terjadi apabila kita memilih/memakai font yang tidak terdefinisi oleh printer postscript. Atau font yang digunakan tidak ikut dicopy ke disc saat di bawa ke percetakan (apabila kita mendesain sendiri halaman publikasi-kemudian dikirim ke percetakan), sedangkan di percetakan font tersebut tidak tersedia. Untuk itu, copy-lah font tersebut atau di-convert terlebih dahulu dalam desain artwork sebelum diserahkan ke percetakan / tempat pembuatan film. Usahakan sebelum meng-convert dokumen artwork dalam proses prepress, save-lah terlebih dahulu format teks aslinya secara terpisah sebagai dokumen cadangan.

Rule #2: Scans supplied in wrong file format.
Artwork cetak biasanya menggunakan format file .TIFF atau .EPS untuk gambar. Sehingga kalau Anda mendefinisikan file gambar Anda ke JPEG atau GIF dan lainnya untuk keperluan cetak offset, maka warnanya tidak akan sesuai dengan hasil cetak dan kualitas pixel (unsur terkecil dari gambar digital) akan rusak. Untuk kualitas cetak bagus, besaran dpi-nya minimal 300 dpi.

Rule #3: Incorrect page setting or Page Set-up.
Jangan membuat setting halaman lebih besar dari kebutuhan cetak. Misalnya untuk artwork ukuran kertas A4 timbal balik, Anda menggunakan ukuran kertas A3 yang Anda bagi menjadi dua. Gunakan set-up halaman sesuai ukuran yang diperlukan.

Rule #4: Missing graphics. or graphic not linked.
Walaupun Anda sudah memasukkan gambar Anda ke dalam halaman artwork yang Anda desain di PageMaker atau Quark Express, Anda tetap harus mengcopy file gambar Anda ke dalam disk yang Anda kirim ke percetakan atau tempat pembuatan film (repro).

Rule #5: Resolution too high or too low in scans supplied by customer.
Resolusi adalah tingkat kecerlangan (dpi, dot per inch, pixel per inch) pada gambar. Terlalu tinggi resolusi akan menyebabkan hasil yang tidak maksimal dan berlebihan sehingga memboroskan tinta. Sementara resolusi yang didefinisikan terlalu rendah akan menyebabkan gambarnya pecah atau kabur.

Rule #6: File defined with incorrect colours.
Karena unsur warna yang digunakan monitor (komputer) berbeda dengan unsur warna cetak (percetakan) maka sering terjadi hasil cetak yang meleset warnanya. Hal ini harus kita pahami, karena komputer grafis menggunakan unsur warna sinar Red, Green, Blue (RGB Color). Sementara percetakan menggunakan unsur warna tinta Cyan, Magenta, Yellow, Black (CMYK Color). Jadi kita harus menggunakan warna CMYK apabila kita ingin membuat artwork cetak. Kalau sudah terlanjur menggunakan RGB, maka rubahlah kedalam format warna CMYK.

 

Rule #7: Make the Black color as a special one.
Sebaiknya tidak menggunakan warna selain hitam untuk mewarnai teks (apalagi huruf kecil2) atau garis outline pada arwork yang anda buat. Ini untuk mencegah teks/garis menjadi terlihat dobel karena registrasi yang kurang presisi. Bila ada teks yang perlu direvisi pada saat2 terakhir sebelum dicetak, anda hanya perlu mengganti selembar film saja pada warna Black-nya, tidak perlu mengganti 3 lembar lainnya (Cyan, Magenta dan Yellow).

Rule #8: No laser or digital printing proof supplied.
Sebelum dicetak, kita harus melakukan proofing untuk mengetahui contoh hasil cetak nantinya. Nah, kalau kita mencetak hasil proofing dengan menggunakan printer selain printer laser atau color digital printing, biasanya hasilnya akan meleset dari perkiraan. Sekarang sudah banyak printer warna digital – digital printing – sampai ukuran A3+ sebagai sarana proofing sebelum naik cetak. Lebih baik lagi bila anda membuat Progressive Proof untuk mengejar presisi warna yang cocok sesuai tuntutan kualitas yang anda inginkan.

Itulah hal-hal yang perlu diperhatikan saat Anda menyiapkan sendiri artwork pada tahap prepress. Sebaiknya Anda tetap berkonsultasi dengan sesama Graphic Designer untuk mendapatkan second opinion terhadap hasil artwork anda, atau diskusikan hal tersebut di atas dengan tempat pembuatan film langganan / percetakan Anda.

 

sumber : http://www.chabelita.biz/papers-contents-60/28-graphic-design/75-alur-prepress-dalam-bisnis-percetakan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: